Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Laissez-faire

Gambar
Pernikahan saya dan suami, sebut saya dia Tuan Besar karena literaly memang besar, baru dua tahun. Tapi kami pernah mengalami beberapa bentuk pembagian tugas keluarga dalam manajemen rumah tangga. Aseeeeekkk (((manajemen))). Tuan Besar sempat jadi working-at-home-husband sementara saya bekerja kantoran penuh waktu. Kami juga pernah mengalami masa-masa di mana kami berdua ngantor 8-5 bahkan lebih. Dan yang terakhir, saat ini Tuan Besar ngantor, dan saya temporary working at home . Kami pernah punya ART paruh waktu. Pernah langganan laundry kiloan. Pernah setia pada katering harian. Pernah pula nitip anak ke daycare termahal di kawasan Bintaro (nangis kalau inget bill-nya). Dan kini, kami lepas dari semua fasilitas itu, sejak pindah ke Surabaya dua bulan lalu. Berdasarkan berbagai pengalaman di masa lalu, kami belajar tentang karakteristik keluarga kami dan bagaimana bentuk pembagian tugas yang cocok buat kami. Bentuknya adalaaaaah: Laissez-faire . Yeeeaaahhh!!! Laissez-faire adalah se

Pengalaman Traveling, Perjalanan Darat Bareng Bayi Menggunakan Mobil

Gambar
Di tahun lalu saya sempat menuliskan beberapa artikel tentang traveling bareng Gayatri naik pesawat. Hampir setengah lusin kali ya artikelnya, beranak pinak. Kemarin di pertengahan bulan Februari kami sempat melakukan traveling lagi. Berbeda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya, kali ini kami menggunaan kendaraan darat pribadi. Perjalanan yang kami lalui yaitu Surabaya – Pati, sekitar 5-6 jam perjalanan darat normal. Kesalahan Karena sudah sering melakukan perjalanan bareng bayi, kami berdua jadi agak “ngampangke”. Hal ini terlihat terutama di bagaimana kami packing. Ya, namanya bawa kendaraan sendiri, asumsi kami bakal lebih gampang. No limit bagasi, nggak harus dipak rapi, bisa nanti-nanti nyusul masukin ke mobil. Nggak kayak naik pesawat. Begitu pikiran kami saat itu. Related Post: Pengalaman Membawa Bayi Naik Pesawat Hingga di hari H, kami belum kelar packing dong. Harusnya berangkat jam 8 molor ke jam 9 karena masukin barang-barang yang masih kececer. Tapi saat itu kami masih s

Review Perlengkapan Bayi Mothercare Toiletries

Gambar
Satu hal yang saya pelajari setelah satu tahun lebih mengurus Gayatri anak saya adalah: kalau ada perubahan pada kondisi kulit bayi kita, jangan panik dan langsung menyimpulkan kalau kulit bayi kita sensitif…. Bisa jadi hanya karena tidak cocok dengan udara atau tidak cocok dengan kandungan perlengkapan bayi yang kita berikan. Ya, sedikit banyak seperti wajah kita ya. Kalau skincare-nya nggak cocok kan kadang ada reaksi tertentu. Cuma kalau di orang dewasa kan lebih santai ya menghadapinya. Kalau bocah…. waduuuu garuk garuk melulu. Padahal merah-merahnya dikit, cuma karena kepanasan dan keringetan doang, tapi garuk-garuknya uda kaya ekskavator ngegaruk kali Ciliwung. Semangat 45. Lecet dimana-mana. Jadi PR baru, ngobati luka-lukanya. Hihihi, ada yang ngalamin hal yang sama nggak? Saya ngalamin. Gayatri kena biang keringat ringan gitu, tapi karena saya nggak berani ngasih bedak tabur untuk meminimalisasi rasa gatalnya. Hal itu karena kami berdua sama-sama alergi debu, kalau bengek kan t

Pengalaman Meal Prep Seminggu #1

Gambar
Minggu lalu saya sudah share hasil kajian pustaka (alias googling, hahaha) mengenai pengalaman-pengalaman orang lain dalam melakukan meal prep. Biar related, resume-nya bisa dibaca dulu di: Belajar Meal Prep dari Orang Lain Sebenarnya masak sendirinya sudah dilakukan selama beberapa minggu, namun meal prepnya baru sekitar semingguan. Nah, kali ini saya mau cerita pengalaman saya selama meal prep seminggu ini. Meal Prep Trial dan Error Sebelum saya cerita bagaimana saya melakukan meal prep saya mau mengutip stories IGnya @miunmiunan, salah satu yang selalu saya pantau tips meal prepnya. Begini katanya: Saya setuju banget, kalau dalam meal prep ini, selain harus “belajar” dari orang lain dengan baca/ minta masukan, juga harus trial error sendiri. Karena kan kondisi orang beda-beda. Kebutuhan masing-masing keluarga beda. Selera juga beda-beda. BAHKAN, tujuan meal prep juga bisa bedaaaaa. Kaya kemarin saya ngobrol sama Mbak Kidung. Tujuan meal prep beliau adalah untuk mendukung dietnya. Ja

Tolong! #nyonyapunyacerita

Gambar
“Mbak, tolong mbak…. Saya kecopetan tadi di bus. Saya nggak punya ongkos pulang. Boleh tidak saya pinjam uangnya, nanti saya transfer pas sudah sampai di rumah?”. Jika ada orang asing di tempat umum menyambangi teman-teman dan mengatakan hal tadi, apa respon teman-teman? Kasihan? Ya, kalau memang beneran memelas, kitanya pasti kasihan ya. Tapi pernahkah terlintas curiga? Kalau saya si iyes. CURIGATION. Soalnya sudah dua kali kejadian ketipu karena rasa kasihan. Dua-duanya sama anak kecil lagi. Pada kesempatan yang berbeda, anak kecil meminta-minta pada saya, namun dengan kebohongan. Huft. Kesel banget ketika kebohongan itu ketahuan. Masalah ditipu karena belas kasihan juga pernah dialami oleh teman saya, Tetty. Ceritanya bisa dibaca di: #NyonyaPunyaCerita: Susahnya Jadi Orang Baik “Kalau ada yang minta-minta sama saya lagi seperti itu, apa yang harus saya lakukan?,” tanya saya pada senior kuliah saya saat itu. Namanya Kak Flo. Jawabnya, “Ikuti kata hati”. Buset, jawabannya dalem banget

Challenge: Masak Sendiri dan Meal Prep

Gambar
Selama tiga minggu nyicipin rasanya jadi ibu rumah tangga, saya mulai care dengan beberapa hal yang sebelumnya tidak saya perhatikan. Yang pertama adalah masalah uang makan dan yang kedua adalah masalah masak. Uang Makan Dua minggu pertama saya pindah ke Surabaya, hampir bisa dikatakan tiap hari saya jajan atau makan di luar. Bukannya sombong atau hura-hura ya. Tapi memang agak euforia aja lihat harga makanan di Surabaya yang jauh lebih murah dibandingkan Jakarta. Tapi biar murah, setelah dihitung-hitung lumayan juga. Lumayan banget malah. Hahaha…. Hasil dari baca-baca blognya Mbak Rinda (rumahbarangtinggalan.wordpress.com) dan Twelvi (twelvifebrina.com), saya menyimpulkan kalau memang bener, biaya makan itu nggak kerasa tapi adalah faktor utama keborosan. Tips dari kedua blog di atas untuk mencegah pemborosan uang makan kurang lebih sebagai berikut: Buat perencanaan menu untuk beberapa periode (misal seminggu atau sepuluh hari), Belanja sesuai perencanaan menu di atas, Masak sendiri d